Taubat; Agar Hidup Tetap Mudah dan Lurus
“Demi Allah sesungguhnya saya membaca istighfar (memohon ampun) dan bertaubat kepada Allah tiap hari, lebih dari tujuh puluh kali.” (HR. Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra).
Hidup yang mudah adalah hidup yang selaras dengan fitrah, yakni asal penciptaan diri. Fitrah manusia telah diciptakan dengan beragam karakteristik dan kebutuhannya masing-masing. Komponen hati manusia, senantiasa menginginkan kepastian arah kemana hidup ini akan berakhir, membutuhkan pegangan untuk menjalani hidup, mengharapkan kekuatan untuk menghidupkan hati, serta menentramkannya. Komponen jasmani dan akal (intelektualitas) manusia pun memiliki karakter dan kebutuhannya masing-masing.
Hanya Islam-lah agama yang mengatur hidup manusia agar selaras, seimbang dan memenuhi ketiga komponen dirinya dengan sempurna. Islam memberikan arah dan jalan hidup bagi setiap muslim, sehingga bisa dengan jelas melihat rambu-rambu yang harus diikutinya untuk menuju tujuan akhir hidupnya. Di dalam mengikuti rambu inilah, hati akan merasakan ketentraman dan ketenangan, karena betapapun sulit dan terjalnya jalan yang ia lihat dan harus dilalui, ia yakin bahwa hanya jalan itulah yang akan membawanya pada tujuan, serta di jalan itulah Allah SWT akan senantiasa menyertainya.
Namun, jalan Islam, bukanlah jalan penderitaan sebagaimana yang tidak jarang disalahfahami sebagian orang. Islam tidaklah membenci dunia, menjauhkan ummatnya dari segala kenikmatan dunia. Sama sekali tidak. Bahkan Islam memberikan tuntunan agar seluruh kenikmatan dunia itu, tidak hanya mendatangkan kepuasan dan kenikmatan sebatas kepuasan ragawi, tetapi memiliki nilai ukhrawi (akhirat) pula. Sehingga, seluruh amal dan usaha manusia di dunia, dengan tatanan Islam, akan memiliki nilai ibadah. Ikhtiar yang sungguh-sungguh sehingga memperoleh harta kekayaan, menjadi memiliki nilai keutamaan (fadhilah) tatkala semua ikhtiar itu dilakukan selaras dengan ajaran Islam, dan menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Melangsungkan pernikahan, dimana di dalamnya kebutuhan ragawi (seksual) manusia tersalurkan, menjadi sesuatu yang sakral dimana pernikahan yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam menjadi sebuah ibadah yang dianjurkan Islam kepada ummatnya. Bahkan, pernikahan bisa menjadi salah satu tahapan dalam da’wah untuk membangun masyarakat Islami. Demikianlah seterusnya. Di dalam Islam, seluruh komponen dalam diri manusia terpuaskan secara integral, puas secara ruhani maupun ragawi, bernilai duniawi dan juga ukhrawi. Tidak ada keterpisahan.
Karena itu, setiap penyimpangan dari jalan Islam, sekecil apapun, akan membawa akibat pada derita dan sengsara. Segala upaya menjauhkan Islam dari kehidupan, hanya akan mendatangkan kesulitan dan kerumitan dalam hidup manusia. Realitas ummat saat ini, yang mengasingkan Islam dari kehidupan, menunjukkan betapa sengsaranya kaum muslimin di dunia saat ini. Hal yang bertolak belakang dengan keadaan kaum muslimin tatkala mereka menjadikan Islam sebagai penuntun hidupnya. Mereka tampil sebagai sebaik-baik Ummat (khairu ummat), dalam peradaban maupun budayanya.
Tatkala Islam kita masabodohkan dalam perilaku keseharian kita, maka berbagai derita dan sengsara pasti menerpa. Janganlah dikira para pembohong menikmati ketidakjujurannya dalam hidupnya. Setiap saat siksa kebohongan menjerat hatinya, membebani dan membelenggu pikiran dan perasaannya. Apakah para pencuri atau koruptor bisa menikmati hidup dengan hasil kejahatannya itu? Secara ragawi mereka mungkin terpuaskan, namun nurani mereka tidak mungkin dibohongi. Kehormatan dan harga diri hanya ada dalam khayalannya, sebab mereka tahu, orang-orang disekitarnya melecehkan dan mencibirnya. Siksaan dan derita akan terus membelenggu dan kian menggunung seiring dengan kian dekatnya ajal.
Upaya untuk selalu tetap di jalan Islam, adalah upaya agar seluruh kenikmatan hidup dapat tetap kita rasakan. Berbagai kemudahan dalam menjalani hidup sesulit dan seberat apapun dapat tetap dirasakan. Salah satu upaya itu, adalah dengan selalu bertaubat dan memperbaharui taubat. Taubat adalah upaya mengembalikan langkah kita tetap di jalan yang lurus. Dilakukan setiap hari, setiap saat kita tersadar akan kesalahan atau penyimpangan yang dilakukan. Dengan demikian, penyimpangan dapat segera diluruskan sehingga tidak menjadi sebuah keterlanjuran yang jauh. Setiap maksiat dapat segera dibersihkan sehingga tidak mengerak dan membekukan nurani.
Taubat pun, bukan semata karena kesalahan dan penyimpangan, namun bisa pula menjadi sarana untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di dalam pertaubatan, kita mengagungkan Allah SWT dan mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah SWT yang menggenggam hidup, sekaligus mengakui kelemahan dan kekerdilan diri dihadapanNya. Karena itulah, di dalam hadits diatas Rasulullah SAW yang terhindar dari dosa dan kesalahan (ma’shum) menceritakan bahwa dirinya senantiasa bertaubat. Pada hadits lain, beliau menyuruh manusia untuk selalu bertaubat dan memperbaharuinya.
Muslim yang senantiasa bertaubat dan memperbaharui taubatnya, akan memiliki kepribadian yang rendah hati, terbuka dan bisa merasakan kemudahan dalam hidupnya, sesulit dan seberat apapun masalah yang dihadapi. Hanya di jalan Islam lah, manusia bisa menapak hidup dengan mudah. Dan taubat, adalah salah satu sarana agar langkah kita tidak menyimpang, tetap berada di jalan yang lurus… (KH. Hilman Rosyad Syihab, Lc.)[Swadaya-DPU]
Hidup yang mudah adalah hidup yang selaras dengan fitrah, yakni asal penciptaan diri. Fitrah manusia telah diciptakan dengan beragam karakteristik dan kebutuhannya masing-masing. Komponen hati manusia, senantiasa menginginkan kepastian arah kemana hidup ini akan berakhir, membutuhkan pegangan untuk menjalani hidup, mengharapkan kekuatan untuk menghidupkan hati, serta menentramkannya. Komponen jasmani dan akal (intelektualitas) manusia pun memiliki karakter dan kebutuhannya masing-masing.
Hanya Islam-lah agama yang mengatur hidup manusia agar selaras, seimbang dan memenuhi ketiga komponen dirinya dengan sempurna. Islam memberikan arah dan jalan hidup bagi setiap muslim, sehingga bisa dengan jelas melihat rambu-rambu yang harus diikutinya untuk menuju tujuan akhir hidupnya. Di dalam mengikuti rambu inilah, hati akan merasakan ketentraman dan ketenangan, karena betapapun sulit dan terjalnya jalan yang ia lihat dan harus dilalui, ia yakin bahwa hanya jalan itulah yang akan membawanya pada tujuan, serta di jalan itulah Allah SWT akan senantiasa menyertainya.
Namun, jalan Islam, bukanlah jalan penderitaan sebagaimana yang tidak jarang disalahfahami sebagian orang. Islam tidaklah membenci dunia, menjauhkan ummatnya dari segala kenikmatan dunia. Sama sekali tidak. Bahkan Islam memberikan tuntunan agar seluruh kenikmatan dunia itu, tidak hanya mendatangkan kepuasan dan kenikmatan sebatas kepuasan ragawi, tetapi memiliki nilai ukhrawi (akhirat) pula. Sehingga, seluruh amal dan usaha manusia di dunia, dengan tatanan Islam, akan memiliki nilai ibadah. Ikhtiar yang sungguh-sungguh sehingga memperoleh harta kekayaan, menjadi memiliki nilai keutamaan (fadhilah) tatkala semua ikhtiar itu dilakukan selaras dengan ajaran Islam, dan menjadi sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Melangsungkan pernikahan, dimana di dalamnya kebutuhan ragawi (seksual) manusia tersalurkan, menjadi sesuatu yang sakral dimana pernikahan yang dilandasi oleh nilai-nilai Islam menjadi sebuah ibadah yang dianjurkan Islam kepada ummatnya. Bahkan, pernikahan bisa menjadi salah satu tahapan dalam da’wah untuk membangun masyarakat Islami. Demikianlah seterusnya. Di dalam Islam, seluruh komponen dalam diri manusia terpuaskan secara integral, puas secara ruhani maupun ragawi, bernilai duniawi dan juga ukhrawi. Tidak ada keterpisahan.
Karena itu, setiap penyimpangan dari jalan Islam, sekecil apapun, akan membawa akibat pada derita dan sengsara. Segala upaya menjauhkan Islam dari kehidupan, hanya akan mendatangkan kesulitan dan kerumitan dalam hidup manusia. Realitas ummat saat ini, yang mengasingkan Islam dari kehidupan, menunjukkan betapa sengsaranya kaum muslimin di dunia saat ini. Hal yang bertolak belakang dengan keadaan kaum muslimin tatkala mereka menjadikan Islam sebagai penuntun hidupnya. Mereka tampil sebagai sebaik-baik Ummat (khairu ummat), dalam peradaban maupun budayanya.
Tatkala Islam kita masabodohkan dalam perilaku keseharian kita, maka berbagai derita dan sengsara pasti menerpa. Janganlah dikira para pembohong menikmati ketidakjujurannya dalam hidupnya. Setiap saat siksa kebohongan menjerat hatinya, membebani dan membelenggu pikiran dan perasaannya. Apakah para pencuri atau koruptor bisa menikmati hidup dengan hasil kejahatannya itu? Secara ragawi mereka mungkin terpuaskan, namun nurani mereka tidak mungkin dibohongi. Kehormatan dan harga diri hanya ada dalam khayalannya, sebab mereka tahu, orang-orang disekitarnya melecehkan dan mencibirnya. Siksaan dan derita akan terus membelenggu dan kian menggunung seiring dengan kian dekatnya ajal.
Upaya untuk selalu tetap di jalan Islam, adalah upaya agar seluruh kenikmatan hidup dapat tetap kita rasakan. Berbagai kemudahan dalam menjalani hidup sesulit dan seberat apapun dapat tetap dirasakan. Salah satu upaya itu, adalah dengan selalu bertaubat dan memperbaharui taubat. Taubat adalah upaya mengembalikan langkah kita tetap di jalan yang lurus. Dilakukan setiap hari, setiap saat kita tersadar akan kesalahan atau penyimpangan yang dilakukan. Dengan demikian, penyimpangan dapat segera diluruskan sehingga tidak menjadi sebuah keterlanjuran yang jauh. Setiap maksiat dapat segera dibersihkan sehingga tidak mengerak dan membekukan nurani.
Taubat pun, bukan semata karena kesalahan dan penyimpangan, namun bisa pula menjadi sarana untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Di dalam pertaubatan, kita mengagungkan Allah SWT dan mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah SWT yang menggenggam hidup, sekaligus mengakui kelemahan dan kekerdilan diri dihadapanNya. Karena itulah, di dalam hadits diatas Rasulullah SAW yang terhindar dari dosa dan kesalahan (ma’shum) menceritakan bahwa dirinya senantiasa bertaubat. Pada hadits lain, beliau menyuruh manusia untuk selalu bertaubat dan memperbaharuinya.
Muslim yang senantiasa bertaubat dan memperbaharui taubatnya, akan memiliki kepribadian yang rendah hati, terbuka dan bisa merasakan kemudahan dalam hidupnya, sesulit dan seberat apapun masalah yang dihadapi. Hanya di jalan Islam lah, manusia bisa menapak hidup dengan mudah. Dan taubat, adalah salah satu sarana agar langkah kita tidak menyimpang, tetap berada di jalan yang lurus… (KH. Hilman Rosyad Syihab, Lc.)[Swadaya-DPU]

0 Comments:
Post a Comment
<< Home