kajian

"mengarungi samudra kehidupan kita ibarat para pengembara hidup ini adalah perjuangan tiada masa tuk berpangku tangan setiap tetes peluh dan darah tak akan sirna ditelan masa segores luka dijalan Allah kan menjadi saksi pengorbanan.... "

Tuesday, July 12, 2005

Sudah Sedemikian Keraskah Hati Ini?

Di dalam perjalanan menuju kantor, saya terlelap menikmati sejuknya
udara dalam bis. Tak terasa hingga kondektur bis membangunkanku untuk
menagih ongkos, dengan mataku yang masih merejap kuulurkan sejumlah
uang untuk membayar ongkos bis. Dan ... samar mataku menangkap sosok
seorang ibu setengah baya berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Tapi,
rasa kantuk dan lelah ku mengalahkan niat baik untuk memberikan tempat duduk untuk ibu tersebut.
Turun dari bis, baru lah sisi baik hati ini bergumam, "Andai saya
berikan tempat duduk kepada ibu tadi, mungkin pagi hari ini keberkahan bisa kuraih". "Siapa tahu ridha Allah untuk ku di hari ini dari doa dan terima kasih ibu itu jika saja kuberikan tempat dudukku ..." Ah, kenapabaru kemudian diri ini menyesal?
Semalam dalam perjalanan pulang dengan kereta api, duduk di hadapan
saya seorang bapak berusia 40-an. Lewat seorang penjual air minum
kemasan, dan ia segera menyetopnya untuk membeli. Tangan kirinya
memegang segelas air minum kemasan sementara tangan satunya merogoh-rogoh kantongnya. Sesaat ia memperhatikan beberapa keping yang ia mampu raih dari bagian terdalam kantongnya, ternyata ... ia
mengembalikan segelas air minum kemasan yang sudah digenggamnya kepada
penjual air sambil menahan rasa hausnya.
Saya yang sedari tadi di depan bapak itu hanya bisa menjadikan serangkaian adegan itu sebagai tontonan. Tidak ada tawaran kebaikan
keluar dari mulut ini untuk membelikannya air minum, meski di kantong
saya terdapat sejumlah uang yang bahkan bisa untuk membeli dua dus air
minum kemasan! Bayangkan, cuma 500 rupiah yang dibutuhkan bapak itu
tapi hati ini tak juga tergerak?
Kemarin, sebelum Isya, juga dalam perjalanan pulang. Hanya berjarak
200 meter dari kantor, saya melewati pemandangan yang menyentuh hati. Di pinggir jalan Wijaya, Jakarta Selatan, sekeluarga pemulung tengah
menikmati penganan kecil berbuka puasa mereka. Suami, istri beserta
dua naknya itu tetap lahap meski yang mereka nikmati hanya sebungkus kue entah pemberian siapa. Sempat langkah ini terhenti setelah tujuh atau delapan langkah melewati mereka, sempat pula saya berpikir untuk
menghampiri keluarga itu untuk sekadar mengajak mereka makan. Tapi ...
bayangan ingin segera bertemu anak-anakku di rumah mengalihkan
langkahku untuk meneruskan perjalanan.

Padahal, dengan uang yang saya miliki saat itu, sepuluh bungkus nasi
goreng pun bisa saya belikan. Apalagi jumlah mereka hanya empat
kepala. Dan kalau pun harus tergesa-gesa, toh semestinya saya bisa memberikan sejumlah uang untuk makan mereka malam itu, atau juga untuk sahur esok hari. Duh, kenapa kaki ini justru meneruskan langkah sekadar untuk memburu kecupan kedua putriku sebelum mereka tidur?
Pagi ini. Saya coba renungi semua perjalanan hidup ini. Ya Tuhan,
Sudah sedemikian keras kah hati ini? Sehingga tanpa rasa berdosa kulewatkan begitu banyak kesempatan berbuat baik. Bukankah selama ini saya selalu berdoa agar Engkau memberikanku kemudahan untuk berbuat baik terhadap sesama? Tetapi ketika Engkau berikan jalan itu, aku malah melewatkannya.Berikan kesempatan itu lagi untukku, Tuhan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home