kajian

"mengarungi samudra kehidupan kita ibarat para pengembara hidup ini adalah perjuangan tiada masa tuk berpangku tangan setiap tetes peluh dan darah tak akan sirna ditelan masa segores luka dijalan Allah kan menjadi saksi pengorbanan.... "

Tuesday, November 01, 2005

ikhlas

“Alhamdulillah deh, kalo aku sih belum pernah tuh yang namanya absen sholat malem. Paling kalo lagi cape aja aku bisa kebablasan. Tapi itu juga `gak lebih dari satu atau dua hari setiap minggunya. Saum sunah juga begitu, trus dhuhanya juga, Alhamdulillah `gak pernah lewat…”, ujar Nisa suatu ketika saat rehat dalam rapat siang itu. Kontan saja perhatian teman-teman yang saat itu sedang diskusi langsung tertuju padanya. Pandangan kagum, pujian, bahkan sanjungan pun tak urung mulai mengalir dari masing-masing peserta diskusi. Adegan selanjutnya bisa di tebak, pembicara pun beralih pada Nisa yang makin semangat membeberkan kelebihan-kelebihan ibadahnya yang di atas rata-rata.
Masya Allah. Pernah `gak sih kalian juga mengalami hal seperti diatas ? Berdecak-decak kagum mendengar orang lain meriwayatkan segala jenis ibadahnya yang fantastis (atau bahkan jangan-jangan justru kalian/kita sendiri yang menjadi pelaku atas periwayatan ibadah-ibadah harian kita ?). Nah, sebenarnya boleh `gak sih kita melakukan hal seperti di atas ?
“Sah-sah aja sih, toh tidak melanggar Undang-undang, malah bagus kan, bisa memacu orang lain untuk beribadah lebih rajin”, sahut Ut (nama samaran).
“E.. gak boleh dong, itu namanya riya “, Ari menyahut `gak mau kalah.
“Ria ? maksud lo anak baru itu ? emang kenapa dia ?”, kali ini Moni menyahut `gak `mudheng`.

Sekarang, coba simak kisah berikut ini,
Suatu ketika, tersebutlah 3 orang musafir yang sedang dalam perjalanan. Saat hari telah mulai gelap, ketiganya lalu memutuskan untuk beristirahat disebuah gua. Karena kelelahan dengan panjangnya perjalanan, ketiganya lalu segera saja tertidur lelap, dan tidak menyadari, bahwa sebuah batu besar tiba-tiba saja jatuh menggelinding sehingga menutup mulut gua. Paginya saat ketiganya terbangun untuk meneruskan perjalanan, mereka terkejut saat mendapati pintu gua ternyata telah tertutup oleh batu besar yang tadi malam terjatuh. Ketiganya lalu bergotong royong untuk menggeser batu besar tersebut. Tapi rupanya usaha mereka sia-sia, karena batu besar itu tidak satu inci pun bergeser. Karena kelelahan, mereka akhirnya pasrah dan memohon keajaiban dari Allah, berharap akan ada seorang yang lewat dan menolong mereka keluar dari dalam gua .
Dalam perasaan was-was itulah lalu terfikir oleh mereka untuk memohon kepada Allah dengan amalan-amalan yang mereka miliki.
Musafir pertama lalu berdoa, ` Ya Allah, dahulu hambamu ini selalu berbakti kepada kedua orang tuaku. Apa pun yang aku lakukan, aku tidak pernah melupakan kedua orang tuaku. Bahkan kebahagiaan keluargaku pun aku kesampingkan demi kebahagiaan orang tuaku. Suatu hari, sehabis aku membanting tulang seharian mencari nafkah bagi keluargaku, aku sempatkan membeli susu untuk kedua orang tuaku dan keluargaku.
Saat aku pulang, keduanya sedang tertidur lelap dan susu yang kubawa tak sempat aku berikan kepada kedua orang tuaku. Aku dan keluargaku tidak menyentuh sedikit pun susu tersebut, hingga pagi pun tiba. Setelah kedua orang tuaku terbangun dari tidurnya, aku serahkan susu tersebut kepada kedua orang tuaku. Setelah mereka meminumnya, sisanya aku minum sendiri bersama anak dan keluargaku. Ya Rabbku, jika perbuatanku itu aku lakukan ikhlas karena-Mu, geserkanlah batu besar ini Ya Allah.`
Tak disangka, tiba-tiba saja terjadi sebuah keajaiban. Batu besar tadi bergeser sedikit hingga terlihatlah sebuah celah kecil.
Kemudian musafir kedua pun berdoa pula kepada Allah, `Wahai Rabbku, dahulu ketika aku masih muda dan gagah serta tampan pula, aku sangat menyukai dan mencintai sepupuku. Dia adalah gadis tercantik dikampungku. Dia gadis yang sederhana, periang dan menyenangkan untuk diajak bersahabat. Tanpa terasa, hati ini tidak kuasa lagi untuk memendam rasa cinta padanya. Namun apa daya kuasaku pun belum tiba. Suatu hari, gadis yang aku idamkan itu datang kepadaku untuk meminta bantuanku. Yaitu menolong orang tuanya yang membutuhkan beberapa ribu dinar untuk membayar hutangnya. Saat itu setan la`natullah datang menghampiriku, dan membisikkan kata-kata indahnya agar aku mau menolongnya , lalu sebagai imbalannya gadis itu harus menemaniku malam ini. Kata-kata itu pun terlontar dari bibirku. Tapi sepupuku menolaknya. Tapi beberapa hari kemudian dia datang lagi padaku, dan aku tetap mengajukan tawaran yang sama. Akhirnya karena mungkin baginya tak ada lagi jalan keluar, dengan berat hati dia lalu mengiyakan ajakanku. Lalu malamnya, saat kami hendak melakukannya, sepupuku berkata,`tunggu dulu wahai kakak, jika Allah melihat perbuatan kita, apa nanti yang akan kita katakan pada-Nya ?`, mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir saudaraku, spontan pula aku tersadar dari jeratan setan tersebut. Aku dan dia tidak jadi melakukan perbuatan terkutuk itu, lalu aku penuhi janjiku untuk memberinya pinjaman. Aku berkata padanya,`pakailah dahulu uang ini untuk membayar hutang-hutang ayahmu, untuk pengembaliannya tidak usah kau pikirkan`. Jika apa yang aku lakukan itu ikhlas karena-Mu, geserkanlah batu besar ini Ya Allah”.
Subhanallah, batu besar itu pun kembali bergeser, hingga celah yang tadi, terlihat sedikit lebih besar.
Lalu kini tiba giliran musafir ketiga yang berdoa, `Wahai Rabbku, Engkau telah memberikan rezeki kepadaku dengan berlipat ganda. Usahaku Engkau beri rahmat. Ternakku berkembang dengan cukup pesat. Dalam perjalanan usahaku Engkau berikan tantangan dan kesenangan silih berganti kepadaku. Suatu hari, salah seorang pekerjaku mengundurkan diri tanpa sebab, dan pergi tanpa pamit, sedangkan aku belum lagi membayarka upahnya. Setalah aku tunggu untuk beberapa lama tak juga datang kabar darinya, akhirnya uang yang seharusnya aku bayarkan sebagai upahnya, aku belikan sepasang domba yang sehat dan aku pelihara dengan baik. Hingga bertahun-tahun lamanya aku merawat domba itu, dan dengan kasih sayang- MU domba-domba itu
berkembang biak menjadi sangat banyak. Lalu pada suatu hari, tiba-tiba saja pekerjaku itu datang lagi padaku dan menagih upahnya yang dahulu belum sempat diambilnya. Lalu aku ajak dia ke suatu padang ternak yang luas dan aku tunjukkan padanya,`inilah upahmu dahulu dan ambillah`,dia tidak begitu saja percaya padaku, akhirnya aku ceritakan padanya asal-usul domba-domba itu, barulah dia mempercayaiku dan mau menerima domba-domba itu. Ya Rabbku, jika aku lakukan itu semata-mata karena ikhlas dan hanya mengharapkan Ridho Mu saja, maka geserkanlah batu itu dari mulut gua`.
Saat musafir ketiga mengakhiri doanya, batu besar tadi bergeser lagi hingga akhirnya ketiga musafir itu pun bisa keluar dari dalam gua dengan selamat, dan meneruskan perjalanannya.
Subhanallah. Bisakah kalian melihat korelasi dari kisah ketiga musafir tersebut ?
Bagaimana harga sebuah keikhlasan, yang tulus, murni hanya untuk mengharapkan Ridho Allah semata, ternyata bisa menyelamatkan jiwa mereka.
Sebuah keikhlasan yang bersih dan tulus, jauh dari unsur pamer atau keinginan untuk di ketahui ibadahnya oleh orang lain. Allah SWT sangat mencintai hamba-hamba Nya yang berbuat sesuatu dengan ikhlas, tulus, dan hanya mengharapkan ridho dari-Nya semata.
Bahkan Rasulullah sendiri menegaskan dalam salah satu haditsnya, `
`sesungguhnya pada setiap amal perbuatan tergantung pada niat dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan…`(Diriwayatkan oleh dua ahli hadits).
Allah tidak menghendaki adanya sifat riya dalam diri hamba Nya. Karena sifat riya, selain dicela dan di benci Allah, hanya akan menimbulkan kesia-siaan belaka.
Ingin di puji adalah naluri dasar setiap manusia, karenanya ia akan selalu ingin mendapat penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dsb. Ia pun akan selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada dalam dirinya atau pun segala apa yang ia lakukan. Apalagi kalau yang ada dalam dirinya atau yang tengah ia lakukan itu berupa kebaikan. Allah ingin menguji manusia, sejauh mana ia bisa berlaku ikhlas, dengan di anugrahkannya fitrah riya, ingin pamer dan ujub dalam diri setiap manusia.
Karena sesungguhnya, setiap muslim seharusnya paham untuk apa ia di ciptakan, dan bagaimana seharusnya ia menjalani kehidupannya di tempat persinggahan ini.
`Dunia adalah ibarat sebuah pohon di tengah padang pasir, dimana di bawah pohon tersebut seorang musafir akan berteduh dan beristirahat untuk mengumpulkan tenaganya dan menyiapkan perbekalan untuk kemudian kembali meneruskan perjalanannya` ujar seorang ulama.
Dan Allah mengibaratkan kepribadian seorang muslim dengan perumpamaan,`…seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) kelangit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan se izin Tuhannya…` (QS. Ibrahim :24-25)
Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat, dan menyadari, bahwa sesungguhnya, ridho Allah, adalah puncak dari segala cita-cita.
Nah sekarang, sama-sama, mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, sudahkah kita menjadikan ridho Allah sebagai prioritas di atas prioritas ?
Karena sesungguhnya, tak ada seseorang yang mengenal diri kita selain diri kita sendiri. Wallahu`alam. (MAF/1423 H)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home