kajian

"mengarungi samudra kehidupan kita ibarat para pengembara hidup ini adalah perjuangan tiada masa tuk berpangku tangan setiap tetes peluh dan darah tak akan sirna ditelan masa segores luka dijalan Allah kan menjadi saksi pengorbanan.... "

Monday, October 31, 2005

Ikhwan GANTENG, Partner Sejati Akhwat?

Hudzaifah.org - Alangkah indahnya Islam. Kedudukan manusia dinilai dari ketaqwaannya, bukan dari gendernya. Ini adalah strata terbuka sehingga siapa saja berpeluang untuk memasuki strata taqwa.

Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berbeda. Ikhwan, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan rasionalitasnya karena ia adalah pemimpin bagi kaum hawa. Akhwat, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan sensitivitas perasaannya karena ia akan menjadi ibu dari anak-anaknya.

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. 9: 71)

Di lapangan, ikhwan dan akhwat harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam da'wah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.

Belakangan ini menjadi sebuah fenomena baru di berbagai LDK kampus tentang sedikit 'konfrontasi' ikhwan dengan akhwat. Tepatnya, tentang kurang cepat tanggapnya da'wah para ikhwan yang notabene adalah partner da'wah dari akhwat.

Patut menjadi catatan, mengapa ADK akhwat selalu lebih banyak dari ADK ikhwan. Walau belum ada penelitian, tetapi bila melihat data kader, pun data massa dimana jumlah akhwat selalu dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan ikhwan, maka dapat diindikasikan bahwa ghirah, militansi dan keagresifan berda'wah akhwat, lebih unggul. Meski memang hidayah itu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, namun tentu kita tak dapat mengabaikan proses ikhtiar.

Akhwat Militan, Perkasa dan Mandiri?
Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? Berdasarkan dialog-dialog yang penulis telaah di lapangan, dan di beberapa LDK, ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da'wah. Bahkan ada sebuah rohis yang memang secara turun temurun, kader-kader akhwatnya terbiasa mandiri dan militan. Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Dan ada pula sebuah masjid kampus di Indonesia yang hampir semua agenda da'wahnya digerakkan oleh para akhwat. Entah hilang kemanakah para ikhwan.

Akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, penulis pernah mendengar doa seorang akhwat, "Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan yang seperti itu… (tidak cepat tanggap–red)," ujarnya sedih. Nah!

Ikhwan GANTENG
Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da'wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.

1. (G) Gesit dalam da'wah
Da'wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda'wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.

2. (A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? "Duh.., ikhwan ngga' liat-liat ke belakang apa ya?" Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.

3. (N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki oleh aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. "Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…," jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.

4. (T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da'wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.

Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, "Mmmm…."
"Lho… terus gimana? Kok cuma "mmmmm"…" tanya para akhwat bingung.
Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan.
"Aduh… gimana sih…." Para akhwat menjadi senewen.

5. (E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.

Contoh kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, "Nanti juga balik lagi akhwatnya."

6. (N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah "gatal" ingin segera gerak cepat beraksi dalam da'wah, para akhwat berinisiatif untuk "menggedor" ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.

7. (G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. "Ada apa nih?" tanya para akhwat. Saat para akhwat menyadari adanya asap, barulah mereka ikut berhamburan keluar. "Kok ikhwan ninggalin gitu aja…" ujar seorang akhwat dengan kecewa.

Penutup
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da'wah. Ikhwan dan akhwat adalah partner da'wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda'wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)..." (QS. An-Nisa':34).

Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Ukhuwah di dunia, dan di akhirat. Amiin. []



PS : Ayo kita budidayakan (memangnya ternak???) ikhwan GANTENG ini. Dan pada pembahasan selanjutnya, dapat dikupas tentang akhwat CANTIK. Nah, untuk ini, biarkan ikhwan yang menulis ^ _ ^

by:jhnsrh...

mengevaluasi taubat

Setiap orang pasti pernah melakukan taubat, Secara tidak loangsung maupun langsung dilakukan. Namun seringkali pula kita tidak serius dengan apa yang telah kita lakukan. Malamnya kita bertaubat, tapi siangnya kita sudah kembali melakukan dosa. Kalo kata Aidh Al Qorni, taubat yang seperti itu merupakan taubat yang rusak. Beliau menyebutkan tanda-tandanya, diantaranya adalah:

1. Lemah Tekad.
Orang yang bertaubat dari kemaksiatan tapi ibadah wajibnya masih diabaikan termasuk
kedalam orang yang mempunyai tekad yang lemah untuk berubah. Ya salah satunya kalo
dah denger adzan tiba, mereka tidak segera menyambut panggilan 4JJ1. 4JJ1 telah berfirman: Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai 4JJ1, ikutilah Aku, niscaya 4JJ1 mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. 4JJ1 Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Ali Imron: 31)

2. Kecenderungan Hati Terhadap Dosa.
Dari waktu kewaktu, hati cenderung bereaksi dengan dosa, seperti berzina, pandangan yang haram, berlebih-lebihan, dan sebagainya.

3. Terlalu Pe-De.
Sebagian orang merasa terlalu yakin akan dirinya yang menganggap bahwa taubatnya diterima dan tidak akan terjerumus kedalam dosa. Tetapi ketahuilah..4JJ1 maha berkuasa terhadap urusanNya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya (QS. Yusuf:21).

4. Mata yang membeku.
Bukan berarti mata yang membeku itu adalah mata orang-orang yang terkena es sehingga
matanya membeku ^_^, tetapi mata yang membeku disini adalah matanya orang-orang
yang tidak pernah menangis ketika dia melakukan dosa. Kalo udah begini, tandanya hati didalam diri seseorang itu sudah rusak dan harus segera diobati.

5. Diingatkan masih lalai.
Orang yang seperti ini sering kita namain dy sebagai orang yang belet. Sudah banyak
kejadian-kejadian yang ditampakkan suapaya bisa dijadikan sebagai suatu pelajaran, tapi
teeetep aja ada yg gak mau sadar dan masih belum bisa mengambil hikmahnya.

6. Tidak melakukan amal sholih sedikitpun.
Orang yang seperti ini tidak pernah menambahkan amal shalihnya dan tidak berupaya menebus kesalahan-kesalahannya pada masa silam. Ia tetap saja berada dalam kesalahan demi kealahan yang serupa.

Ciri-ciri Taubat Nasuha (Yang Jujur dan Sungguh-Sungguh) :

1. Seorang hamba yang bertaubat kondisinya lebih baik daripada sebelum bertaubat.
Suatu hari Imam Ibnu Taimiyyah pernah di tanya, Apakah seorang hamba yang bertaubat
itu sama seperti sebelum dia berbuat dosa?
Ibnu Taimiyyah menjawab ada yang serupa, ada juga yang lebih baik, dan ada juga yang lebih rendah daripada sebelum bertaubat. Semuanya tergantung urusannya masing-masing. Terkadang dosa yang membuatnya merana di sepanjang hari menjadi sebab kebahagiaannya di dunia dan di akhirat kelak (karena ia bertaubat-ed).

2. Rasa takut senantiasa menghantui siang dan malam.
Rasa takut disini bukan karena ada penampakan pocong dan sejenisnya loh! Tapi rasa takut terhadap amalan dosa yang secara tidak sengaja dia perbuat dan tidak segera memohon ampun kepadanya. Selain itu juga takut akan kematian yang menimpa bila dia ditakdirkan meninggal dalam keadaan suul khotimah (akhir yang buruk).

3. Hendaknya hati kita patuh, tunduk, dan merendahkan hati kepada 4JJ1.
Sungguh, rintihan para pendosa lebih baik di sisi 4JJ1 daripada gemuruh kesombongan seorang ahli ibadah. Sebagian manusia bersikap sombong dan bangga dengan amal kebaikan dan amal-amal shalihnya, sehingga dia menjadi orang yang angkuh di hadapan 4JJ1. Sebagian lagi tunduk patuh dan khusyu dengan dosa-dosanya. Dia menangis, merasa hancur lebur dan penuh kekhusyuan kepada Robbnya, sehingga dosa ini menjadi penyebab kebahagiaannya di sisi 4JJ1.

4. Sebaiknya seorang hamba senantiasa berkomitmen dengan sesuatu yang membuat
4JJ1 ridha kepadanya.Misalnya senantiasa membaca Alquran. Kita pun senantiasa berkomitmen dengan berbagai amal ketaatan, hingga kematian menjemput diri kita. Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal). (QS. Al-Hijr:99).
Wallahu a'lam bi shshawab

Wednesday, October 12, 2005

intropeksi bersama

Assalamu'alaikum Wr Wb...
Berikut cuplikan beberapa tausiyah, semoga dapat
menjadi bahan introspeksi bersama

Orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqarah: 277)

Dunia hanya terdiri dari dua hal saja:
Positif-Negatif, Sukses-Gagal, Untung-Rugi, Senang-Susah. Karena itu, hadapilah dunia dengan dua hal saja :Sabar dan Syukur, Itulah ciri orang yang beriman.

"Hendaknya kita menyedari bahawa musibah yang menimpa kita bukanlah untuk memusnahkan kita, sesungguhnya kehadiran musibah tersebut hanyalah untuk menguji
sampai dimana kesabaran kita" (Ibnu Qayyim)

"Minta tolonglah kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu maka janganlah mengatakan: 'Seandainya aku mengerjakan begini maka akan menjadi begitu!'. Tetapi katakanlah: 'itu semua adalah takdir Allah, apa yang dikehendaki-Nya dikerjakan-Nya'. Sebab kalimat 'Seandainya...'itu akan membuka pintu buat setan".(Al-Hadits)

Jiwa! Mengapa dirimu terlihat lemah? Mengapa semangat itu mulai memudar dan menjadi hampa? Ini belum apa-apa, Jiwa! Engkau belum mencapai surga! Ayo! Percikkan bara semangat dan berjuanglah dengan sempurna! Singkirkan duka dan pekikkan takbir yang membahana!

Allah, saat sepi yang tiada peduli, hanya Engkau yang menemani dan membelai dukaku. Kala gundah hadir tanpa sebab, hanya firmanMu yang memberikan cahaya Saat ku lelah dan berhenti berjalan, hanya Engkau yang menuntun langkah kakiku Ketika dunia tak lagi tersenyum, hanya Engkau yang mampu membuatku tersenyum Sungguh, aku merasakan cintaMu dalam tiap hembusan nafasku

Betapa banyak jalan keluar yang datang setelah rasa putus asa dan betapa banyak kegembiraan datang setelah kesusahan, Siapa yang berbaik sangka pada Pemilik Arasy, dia akan memetik manisnya buah yang dapat dipetik di tengah-tengah pohon berduri

Bacalah secara berulang ‘ La Hawla wala quwwata illa billahi ‘ karena dapat membuat hati tenteram, memperbaiki keadaan, membuat yang berat menjadi ringan dan Allah menjadi Ridha
Bertawakallah kepada 4JJI dan serahkan semua perkara kepadaNya. Terimalah semua ketentuanNya dengan sepenuh hati, berlindunglah kepadaNya, dan bergantunglah kepadaNya karena sesungguhnya Dia cukup sebagai pelindungmu.

Wahai pelayan jasad, betapa engkau kelelahan melayaninya...Engkau bersusah payah untuk sesuatu yang membuatmu merugi...Berikan perhatian pada ruhmu...sempurnakan keutamaan-keutamaannya...Sebab dengan ruh engkau akan menjadi manusia...Bukan dengan jasad....

Jangan takut akan kesulitan, sebab kesulitan akan menguatkan hati, membuat kita dapat merasakan nikmat sehat, membulatkan tekad, dan memunculkan kesabaran, Insya ALLAH

Optimislah, jangan pernah berputus asa dan jangan pula menyerah tanpa usaha. Berbaiksangkalah kepada Rabb, dan tunggulah segala kebaikan dan keindahan dariNya,
insya ALLAH

Kehidupan adalah Dinamika, bukan kevakuman dan kepasifan...Dia adalah pergerakan dan perkembangan, bukan kejumudan dan bukan kekerasan yang membatu...Dia adalah perasaan akan kemenangan, dan bukan kemenangan tanpa usaha...Dia adalah proses menikmati keletihan, bukan menikmati kemalasan...

Hamba 4JJI yang paling bahagia adalah orang yang paling banyak melakukan kebaikan dengan tangannya sendiri, yang paling banyak melakukan kebaikan kepada saudara-saudaranya, dan yang paling banyak bersyukur atas semua itu...Semoga kita dapat menjadi hamba 4JJI yang berbahagia...Amiin

Jika hati diliputi ketakutan, dihimpit kesedihan, dan dicekik kerisauan, maka segeralah bangkit untuk melakukan shalat, niscaya jiwa kan kembali tenang dan tentram...Sesungguhnya shalat itu-atas izin 4JJI-sangatlah cukup untuk menyirnakan kesedihan dan kerisauan.

Di belakangku ada kekuatan tak terbatas, Di depanku ada kemungkinan tak ebrakhir Di sekelilingku ada kesempatan tak terhitung Mengapa aku harus takut?

Sadarilah bahwa semua yang engkau katakan, dan lakukan itu ada diantara engkau dan Tuhanmu.Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang lain.Jangan pikir dan pedulikan apa yang engkau lakukan atas orang lain,dimana orang lain akan berfikir atas perbuatan baik yang kau lakukan. Tetapi percayalah bahwa, mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang jujur,dan berbuat baik.Dan Dia dapat melihat ketulusan hatimu.

Ketika hatimu terluka parah, hanya ada tiga aturan main : Jangan mengenyahkan kepedihan itu, Jangan pernah mencoba tuk mengerti, dan Jangan tenggelam daLam kepedihan itu...

ya Allah, betapa gundah gulana hati oleh dunia, betapa berat ujian yang kau timpa di atas pundak kami, namun biarkan ujian itu selama kasih sayang Mu tak berhenti, kuatkan jiwa kami, akal kami dan mental kami menerima cobaanMu, amin

"Lihatlah hari ini, sebab ia adalah kehidupan, kehidupan dari kehidupan. Dalam sekejap dia telah melahirkan berbagai hakikat dari wujudmu. Nikmat pertumbuhan. Pekerjaan yang indah. Indahnya kemenangan. Karena hari kemarin tak lebih dari sebuah mimpi. Dan esok hari hanyalah bayangan. Namun hari ini ketika Anda hidup sempurna telah membuat hari kemarin sebagai impian yang indah. Setiap hari esok adalah bayangan yang penuh harapan. Maka lihatlah hari ini."

Ya Allah Tuhanku, temani aku seperti kau temani orang yang mencintaiMu, belai dukaku sebagaimana Kau membelai dukanya, beri Aku cahaya saat Kau sinari dia, tuntun kakiku, giring hatiku kepada cinta, agar cintaMu mengalir dalam tiap hembusan nafasku.

by:faizah