kajian

"mengarungi samudra kehidupan kita ibarat para pengembara hidup ini adalah perjuangan tiada masa tuk berpangku tangan setiap tetes peluh dan darah tak akan sirna ditelan masa segores luka dijalan Allah kan menjadi saksi pengorbanan.... "

Tuesday, August 29, 2006

SeBeLuM HilanG CINTA

Ada atikel bagus dari www.eramuslim.com

Sebelum Cinta Hilang ^ - ^

*********************************************
Ketika ada biasa saja, ketika tiada begitu
berharga. Gambaran inilah yang sering kita
rasakan ketika orang yang kita cintai telah pergi
meninggalkan kita. Ketika seseorang itu ada, hadir
di tengah-tengah kita, kadang kita bersikap biasa-
biasa saja. Namun ketika dia telah pergi
meninggalkan kita, kadang baru terasa dia
sungguh berharga dan bermakna. Kitapun
menyesal ketika belum bisa melakukan yang
terbaik untuknya semasa masih hidup dulu.


Saya mempunyai cerita tentang hal ini. Bukan
kisah saya, tapi kisah seorang sahabat saya yang
kini menetap di Kota Makasar. Saya pertamakali
berkenalan dengannya ketika sama-sama menjadi
delegasi pada acara Musyawarah Nasional
(Munas) Forum Lingkar Pena (FLP) di sebuah
hotel yang dingin sekitar Kaliurang Jogjakarta di
tahun 2005. Kesan pertama, dia begitu kalem, rapi
dan murah senyum. Setelahnya, saya menjalin
komunikasi dengannya melalui dunia maya.
Banyak cerita yang sempat terlontar, tak hanya
seputar kepenulisan tetapi juga tentang kisahnya
yang bagi saya sangat mengharukan.


Sahabat saya ini pernah kehilangan orang yang
begitu dicintainya, dialah isteri tercintanya.
Isterinya itu harus meninggalkannya lantaran sakit
ketika usianya masih cukup muda, kelahiran tahun
1983 dan meninggal tahun 2005. Wanita itu
meninggal ketika cinta sedang mekar di antara
mereka, ketika benih-benih cinta mulai tertanam.
Tapi, takdir berkata lain. Mereka harus
terpisahkan, kematian begitu cepat
menghantarkan wanita itu meninggalkan dunia
fana ini.


Saya membayangkan bagaimana perasaan
sahabat saat tadi ketika mendapati kenyataan
isterinya telah tiada. Sedih tentu saja menyelimuti
relung jiwanya. Layaknya seorang isteri, tentu ia
adalah sumber inspirasi dan penyemangat
hidupnya, menjadi mitra dalam kehidupan
kesehariannya di kala senang maupun susah.
Sahabat saya itu mengenangkan bagaimana
ketika isterinya memberikan semangat “Bang
skripsinya, ayo dong lekas dirampungkan”. Itu
salah satu kata yang sempat terngiang, sederhana
namun begitu dalam dirasakannya karena ucapan
itu keluar dari isteri tercintanya.


Ketika mengenangnya, kesedihan, tentulah
dirasakan sahabat saya. Tapi dia tak mau terus
terusan berkeluh kesah dan meratapi kepergian
isterinya itu. Dia mencoba bangkit, mencoba tegar
untuk memulai hidup baru. Bagaimanapun juga,
itulah kenyataan yang mesti dihadapinya.
Mencoba kembali menapaki langkah tanpa
kehadiran isterinya.


Hem... kematian memang misterius. Dia pasti
datang tapi kita tidak tahu kapan persisnya.

Namun, bagi seorang muslim justru kematian
menjadi jalan untuk bertemu kekasihnya, dialah
Allah SWT. Yang terpenting adalah bekal yang
cukup untuk kelak bisa bertemu denganNya.


****************************************************


Dari pengalaman seorang sahabat itu, kita bisa
belajar untuk menghargai orang yang kita cintai.
Sebelum hilang cinta, sebelum dia tiada, hargailah
ia. Siapapun, entah dia adalah ORANG TUA kita,
teman-teman kita, isteri atau suami kita, yang
pasti lakukan yang terbaiknya untuknya, berikan
sesuatu yang membuatnya merasa bahagia.


Perlakukan ia sebaik-baiknya, sepanjang yang kita
bisa agar dia bisa memperlihatkan senyum
tersimbul dari bibirnya, sebuah tanda atas
kebahagiaan. Mudah mudahan dengan cara
demikian, kelak kita tidak dihinggapi rasa bersalah
atas kematian orang yang kita cintai karena belum
bisa memberikan yang terbaik semasa hidupnya.
(yon’s revolta)


~Snow man in the mountain~, Agustus 2006

freelance_corp@yahoo.com


Semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua,
agar senantiasa berbuat baik kepada semua orang
dan makhluk hidup lainnya, sebelum semua itu
kembali kepada Sang Pencipta, Allah SWT
Aamiiin

0 Comments:

Post a Comment

<< Home